Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Agama, Keberagaman dan Kegamangan : Bagian Dua

Staff Manado Today   |   13 Juli 2012 – 21:54 WITA

Oleh : Soleman Montori

Indonesia Tempat berbaurnya berbagai Suku

montori

Soleman Montori

INDONESIA adalah tempat berbaurnya orang dari berbagai suku, agama, ras dan budaya; semuanya memiliki tanggung jawab untuk membangun Indonesia yang tidak kaya kebencian dan kekerasan, tapi Indonesia yang murah hati dan tidak mengorbankan kebebasan dasar, dan umatnya tidak menggunakan keyakinan sebagai alat pemisah untuk memecah-belah persatuan bangsa.

Semua orang, siapa pun dia, pasti tidak akan menyerah meraih kebebasan dalam menjalankan ibadah. Hal ini ada di dalam kitab suci masing-masing agama bahwa semua manusia diciptakan sama dan setara. Semua pemeluk agama memiliki kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah. Satu atau lebih agama bukan tawanan kekejaman dan penderitaan yang diakibatkan oleh pemeluk agama yang membelokkan kebenaran dan keadilan.

Sikap skeptis dan ketidakpercayaan bahwa keyakinan agama yang berbeda tidak mungkin membentuk ikatan persaudaraan, adalah pandangan sempit dari orang-orang yang hanya berpikir sepihak tanpa menghargai sesama yang lain untuk berbagi masa depan bersama.

Agama, Keberagaman dan Kegamangan : Bagian Pertama

Semua agama yang ada di Indonesia baik yang diakui maupun belum diakui, adalah bagian integral dari Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika; yaitu Indonesia yang seluruh elemen bangsanya memiliki tanggung jawab membangun solidaritas, kebaikan, kasih dan pengorbanan bagi semua.

Di Tiongkok dikenal ungkapan: langit adalah ayah, bumi adalah ibu, semua mahkluk hidup di antara keduanya bersaudara. Ungkapan yang senada juga diungkapkan oleh Lao Tzu bahwa jalan menuju surga adalah jika kita hidup harmonis dengan sesama manusia dan alam.

Kalimat yang hampir sama juga diungkapkan Dr. Sam Ratulangi yang berbunyi Si Tou Timou Tumou Tou, yang artinya manusia hidup untuk menghidupi sesama manusia yang lain.

Dalam catatan sejarah, bangsa Indonesia tidak memiliki karakter yang bermusuhan dengan agama. Indonesia ada karena pemeluk agama yang berbeda mengakui bahwa kepentingan bersama pada awal terbentuknya bangsa Indonesia seperti saling percaya dan saling menghormati jauh lebih baik dan lebih kuat daripada sikap intoleran yang memisahkan. Karena itu, kita harus menolak apa yang ditolak oleh semua ajaran agama dan umat beragama, yakni kekerasan, pembunuhan, pelarangan beribadah dan berbagai bentuk diskriminasi terhadap orang lain yang berbeda agama dan keyakinan.

Kita harus bersatu menghadapi rasa cemas dan bahaya dari orang-orang yang menodai kesucian agama, dan orang-orang yang tidak menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk melihat kepentingan bersama yang lebih besar, atau bagi orang-orang yang menjatuhkan martabat agama sebagai alat pemukul demi kepentingan sempit dan berjangka pendek; kita harus memberitahukan kepada mereka bahwa hanya harapan dan kebaikan yang dapat bertahan dalam lintas waktu dan sejarah.

Juga kita harus beritahukan kepada mereka bahwa agama tidak menciptakan medan perang, sehingga harus ada yang kalah dan ada yang menang, atau ada yang diusir dan terusir. Agama adalah pewaris kehidupan dan ketabahan dalam menghadapi kemelut hidup serta memberi kebaikan dan pencerahan kepada orang jahat agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Menghukum, membenci, dan mencederai orang yang berbeda keyakinan dengan kita adalah dosa, dan semuanya bukan ajaran agama, tetapi keinginan duniawi umat beragama yang dibalut kesucian agama.

Penulis tidak melihat ada orang yang memperoleh keuntungan dan memang tidak akan ada keuntungan ketika seseorang atau sekelompok orang membisniskan agama yang diyakininya, apalagi agama yang diyakininya dipahami sebagai senjata untuk memusuhi keyakinan yang berbeda. Negara maju, kaya dan kuat bukan negara yang agamanya homogen, tetapi negara yang agamanya heterogen dan memberi ruang bagi demokrasi menemukan kekuatan dan keagungannya untuk menjembatani perbedaan dan bersatu dalam usaha bersama.

Persatuan bangsa Indonesia yang beragam dan keutuhan NKRI yang besar hanya bisa terjaga dan terpelihara bila kita tidak menjadikan Pancasila hanya sekedar pilar bangsa tapi sebagai dasar negara. Sebab tak ada dasar negara yang pas bagi bangsa Indonesia yang beragam suku, agama, etnis dan budaya selain Pancasila (yang digali oleh para the founding fathers dari budaya asli Indonesia) untuk membendung peradaban asing (Arab dan Barat), dan mencegah terjadinya diskriminasi agama dan primordialisme.

Semua agama di republik ini berjuang bersama membangun bangsa Indonesia; sama darah dan sama-sama berdarah; dan sebagian dari mereka yang telah memenangi hati dan pikiran, cinta, kesetiaan dan kepercayaan telah meninggal di bawah bendera merah putih yang sama. Mereka tidak berjuang atas nama agama masing-masing, tetapi berjuang dan mengabdi untuk Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading