Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Agama, Keberagaman dan Kegamangan : Bagian Pertama

Staff Manado Today   |   12 Juli 2012 – 12:50 WITA

Oleh : Soleman Montori

Montori

Soleman Montori

Agama merupakan kekuatan yang mengintegrasikan jika kita menghargai keberagaman dan merupakan kekuatan yang memisahkan jika kita gamang dengan keberagaman. Semua memiliki tanggung jawab yang sama memelihara dan menjaga agar keberagaman tidak dipandang sebagai penghalang hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Umat beragama tidak pernah beranjak dari pendirian iman bahwa agama yang dianut adalah untuk kebaikan hidup bersama (samen leven), tapi kadang kala (ever once in a while) selalu diiringi dengan berbagai paradoks, sehingga ajaran agama tentang kebaikan hidup menjadi berbeda dengan praktik keagamaan (religious); sering kali (many’s the time) kesucian agama dicemari oleh sikap vandalisme; dan keluhuran agama adakalanya dijadikan alat untuk mengejar hedonisme pribadi atau komunitas pemeluknya. Akibatnya dalam berbagai aspek kehidupan, sebagian pemeluk agama tak dapat menjadikan agama sebagai sumber inspirasi dalam memproduksi berbagai kearifan untuk kepentingan bersama.

Emile Durkhein (1912) mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem kepercayaan yang disatukan oleh praktik-praktik yang bertalian dengan hal-hal yang suci, yakni hal-hal yang dibolehkan dan dilarang. Definisi lainnya dikemukakan oleh Anthony Wallace (1966), menurutnya agama adalah jenis perilaku yang dapat digolongkan sebagai kepercayaan dan ritual yang bersangkutan dengan makhluk, kekuasaan dan kekuatan supernatural. Stephen K Sanderson (1991) mengemukakan bahwa suatu sistem kepercayan dan praktik dapat disebut agama jika selalu mencakup konsep dunia eksistensi supernatural yang berada di atas dan dibalik dunia sehari-hari, yang dapat diketahui, dan alamiah.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), agama adalah kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan yang dimaksud mengandung pengertian bahwa agama di negara Indonesia adalah suatu sistem kepercayaan yang memiliki ajaran jelas, memiliki nabi dan memiliki kitab suci.

Pendekatan empiris agama yang dimaknai sebagai suatu sistem kepercayaan yang “harus” memiliki ajaran jelas, memiliki nabi dan memiliki kitab suci adalah definisi yang merugikan penganut kepercayaan atau agama lokal lainnya. Kerugian yang dimaksud adalah tidak adanya perlindungan, kepercayaan yang mereka yakini tidak diakui sebagai agama yang sah, tetapi dianggap bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku, sehingga pengikutnya mendapat perlakuan diskriminatif dan “dipaksa” untuk menganut agama yang sudah diakui.

Kerinduan mencari surga dan Tuhan merupakan harapan semua orang. Siapa pun kita, dia atau mereka memiliki kerinduan yang sama. Semua agama tujuan akhirnya adalah menuju surga, mendekatkan diri dan takut akan Tuhan. Namun ada umat yang gamang, jika semua umat masuk surga; di dalam alam pikiran sempitnya, dia atau umat lainnya nanti tidak akan kebagian tempat di surga.

Akibatnya, surga dan Tuhan telah menjadi sengketa intern umat beragama, atau antar umat beragama, dan atau umat beragama dengan dirinya sendiri, yang mengklaim bahwa surga dan Tuhan hanya miliknya.

Kiblat (orientation) kita lahir di dunia ini bukan ke arah suatu suku, agama, ras atau ke golongan tertentu, tetapi ke dalam hidup yang rukun dan damai, hidup yang bebas dari ketakutan dan kekurangan, bebas melaksanakan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing.

Semua memiliki hak dan tanggung jawab untuk mencegah dan memberi pencerahan kepada orang-orang yang menggunakan kekerasan atas nama agama, atau mengorbankan agama dengan cara atas nama agama.

Jika benih teror atas nama suku, agama, ras dan golongan terus ditumbuhsuburkan dan kekerasan terus dipromosikan, kemungkinan bangsa Indonesia akan terpecah belah seperti Uni Soviet, atau tinggal dikenang seperti kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Siapa pun dan agama apa pun memiliki tanggung jawab untuk membangun Indonesia yang bersinar sebagai sumber kebebasan dalam beribadah sesuai dengan agama yang diyakini. Kita harus bangun Indonesia yang toleran; Indonesia yang tidak menuntut orang yang toleran agar bersikap toleran terhadap orang yang intoleran.

Sejak awal reformasi tahun 1998 sampai kini, pengekangan atas nama agama kian mengkhawatirkan. Aksi radikalisme bertopeng kesucian agama tak kenal lelah menebar kegamangan. Seakan-akan telah menjadi model Indonesia baru di era reformasi bahwa agama adalah musuh modernitas dan demokrasi. Bahkan intern agama atau antara agama dengan agama saling menjatuhkan dan meruntuhkan jika ada yang pro modernitas dan demokrasi.

Disadari atau tidak, bangsa Indonesia saat ini diperhadapkan pada masalah tata agama dan tata hukum. Tata agama menuntut kesucian dan kebenaran; tata hukum menuntut keadilan dan kebenaran. Dari kedua tata etika dan moral ini yang sering terefleksi dalam tindakan adalah hal yang sebaliknya, yaitu perilaku umat yang egois, brutal, anarkis dan hidup yang tidak sesuai dengan tata agama dan tata hukum.

Sebagian umat mungkin lebih suka menganut agama tanpa tuntutan moral dan hukum tanpa keadilan. Sikap hidup yang seperti ini tergambar dalam perilaku umat yang kehidupannya mudah rapuh, main hakim sendiri, senang melakukan kekerasan dan penganiayaan; melanggar hukum tanpa kuatir dijatuhi hukuman; menyimpang dari ajaran agama dengan cara melakukan kejahatan dan kekerasan tanpa kuatir bahwa itu adalah dosa yang upahnya adalah maut; mereka tidak menyadari bahwa datangnya maut itu mungkin bukan sekarang ditimpahkan, tapi nanti; mungkin bukan ditimpahkan pada diri sendiri tapi pada anak-cucu atau pada banyak orang dan atau ditimpahkan pada wilayah tertentu yang familiar dengan kekerasan atas nama agama.

“Kelompok intoleran di tanah air terbilang baru. Mereka tidak termasuk elemen bangsa pada masa pergerakan mendirikan negara Indonesia. Karena itu, mereka tidak berkepentingan dengan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pendiri bangsa. Mereka memaksakan isi kepala mereka dengan justifikasi kaku, “Pokoknya!” Aksi vandalisme yang mereka lakukan merebak dengan aneka macam format seperti jaringan ini dan itu, gerakan anti ini dan itu dengan menggunakan kekerasan,“ ujar Alissa Wahid, koordinator Gus Durian. (*)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading