Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Agama, Keberagaman dan Kegamangan : Bagian Terakhir

Staff Manado Today   |   17 Juli 2012 – 18:31 WITA

Oleh : Soleman Montori

Kegamangan atas Agama

Montori

Soleman Montori

Kegamangan atas agama yang berbeda merupakan tembok pemisah yang membuat jarak antarsesama pemeluk agama, dan kemungkinan jaraknya kian lebar jika kita tidak mengambil tanggung jawab bersama menciptakan suasana hidup rukun dan damai.

Masa depan bangsa Indonesia bukan milik kegamangan. Juga bukan milik orang yang menawarkan kebencian dan kehancuran, dan bukan milik mereka yang menyukai kekerasan dan gemar mempromosikan konflik , dan yang mendistorsi iman; sesungguhnya mereka adalah orang yang mendeskriditkan dan mengisolasi diri mereka sendiri. Tanpa sadar sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang membuat surga sebagai tempat yang tidak aman bagi mereka. Kekuatan untuk mematahkan semangat mereka adalah memberikan harapan bahwa masa depan bangsa Indonesia adalah masa depan mereka juga; bangsa Indonesia hanya milik orang-orang yang membangun kehidupan, bukan milik perusak kehidupan.

Kegamangan atas keberagaman agama adalah ancaman bagi demokratisasi. Implikasinya membuat agama sangat sulit menjadi terompet moral dalam berbagai dimensi kehidupan, sehingga yang akan terjadi dan saat ini sudah terjadi pada sejumlah daerah adalah praktik keagamaan yang memukul demokrasi.

Agama sebagai basis moral merupakan kekuatan utama dan terdepan mengatasi kegamangan umatnya. Ibarat obat, agama adalah obat moral bagi umatnya. Tak ada ajaran agama yang menebar rasa takut terhadap sesama yang berbeda agama atau yang berbeda keyakinan; semua ajaran agama mengajarkan kebaikan hidup dan rasa takut kepada Tuhan sebagai permulaan pengetahuan. Orang yang takut akan Tuhan pasti mencintai sesama dan menyadari bahwa Tuhan yang tidak beragama adalah milik semua agama.

Agama, Keberagaman dan Kegamangan : Bagian Ke-empat

Tuhan menciptakan manusia termasuk keyakinan terhadap agama tidak ada yang sama. Hanya satu yang sama, yaitu sifat baik Tuhan pada semua ciptaan-Nya; selebihnya sangat beragam. Siapa yang tidak menghargai keberagaman, ia menentang ciptaan Tuhan. Bangsa Indonesia yang beragam suku, agama, ras, dan etnis bukan dibangun atas dasar primordialisme, tetapi atas dasar penderitaan yang sama (sense of common suffering).

Berbagai pernyataan yang bernada gamang telah menciptakan ketegangan dan ketidaknyamanan umat beragama. Dikotomi ada agama langit dan bumi, larangan boleh tidaknya rumah ibadah berdiri di suatu tempat, berizin atau tidak, diberi izin lalu dicabut atau dibatalkan, adalah bukti nyata bahwa orang percaya terus dijauhkan dari Tuhan oleh orang-orang atau kelompok yang gamang dengan keberagaman.

Gedung GKI Yasmin yang disegel dan jemaatnya dilarang beribadah adalah contoh vulgar tentang tindakan dan perbuatan sekelompok kecil orang-orang yang intoleran terhadap keberagaman. Martabat jemaat GKI Yasmin tidak lagi dihargai dan keamanan mereka tidak terjaga.

Sejak awal reformasi sampai kini, bangsa kita terus disugukan kata-kata kemarahan dan perselisihan hanya karena berbeda keyakinan dan beragam. Ada yang menyerah pada kegamangan dan frustasi. Akankah kita menolak kekerasan dan main hakim sendiri atas nama agama, lalu patuh pada aturan hukum (rule of law)? Ataukah kita menghindari diskriminasi terhadap orang-orang yang tidak serupa atau tidak seagama dengan kita dan memperlakukan mereka sama dengan diri kita sendiri? Kekuatan dan kebesaran bangsa kita bukan berasal dari kekuatan satu suku, satu agama, satu ras atau satu golongan, tetapi kekuatan yang terdasyat bangsa kita bila kita mampu menghargai keberagaman (diversity) suku, agama, ras, budaya dan golongan.

Menabur rasa takut siapa pun dapat melakukannya dan tidak perlu banyak orang, tetapi untuk menciptakan hidup rukun dan damai tidak hanya menjadi karya satu orang, atau satu agama, satu suku, atau satu etnis tertentu, tapi merupakan karya banyak orang yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan etnis.

Orang atau kelompok yang gamang dengan keberagaman tidak hanya menciptakan ketidaknyamanan bagi orang lain, tetapi sesungguhnya ia atau mereka gamang dengan diri mereka sendiri. Kegamanangan mereka akan sirna seperti lampu atau kompor yang kehabisan minyak bila kita dapat meyakinkan mereka bahwa adalah hak setiap suku, agama, ras, dan etnis untuk hidup dengan martabat dan keamanan.

Kini, saatnya sudah tiba untuk menyadari bahwa kekerasan atas nama agama adalah sebuah jalan buntu. Menyalahkan dan memusuhi keberagaman dengan menggunakan agama demi kepentingan diri sendiri atau kelompok terjadi karena kita mendefinisikan diri siapa yang akan kita lawan bukan apa yang menjadi tujuan kita bersama. Tujuan kita bersama adalah meraih masa depan bangsa Indonesia yang rukun, damai dan sejahtera.

Konflik yang berulang-ulang terjadi yang berbalut agama bukan dikehendaki oleh agama dan bukan pula oleh umat beragama, tapi dikendaki oleh pihak yang ingin Indonesia disharmoni; mereka umumnya adalah pihak yang berlindung dalam kesucian agama; mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dan modal budaya untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan; juga tidak memiliki kepekaan dan kesetiakawanan sosial; yang ada pada mereka hanyalah keluh, rasa kecewa dan kegamangan yang penuh kecurigaan pada setiap hal yang baik. (*)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading