Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Agama, Kebersamaan dan Kegamangan : Bagian Ke-empat

Staff Manado Today   |   15 Juli 2012 – 20:03 WITA

Oleh : Soleman Montori

Keberagaman (diversity)

Montori

Soleman Montori

Keberagaman (diversity) suku, agama, ras dan antar golongan adalah kekayaan dan kekuatan bangsa Indonesia, bukan kelemahan (debility). Keberagaman (diversity) adalah keindahan, bukan merupakan pertentangan ketegangan dan perdebatan. Di dunia mana pun, keberagaman tetap ada dan selalu selaras (harmonic) dengan kemajuan. Siapa yang merasa terganggu dengan keberagaman berarti tidak menghargai HAM dan tidak ingin hidup berdampingan secara harmonis.

Menurut John Naisbitt dalam bukunya yang berjudul Global Paradox (1994: 32) hanya 10 persen negara-negara di dunia homogen secara etnis. Misalnya di Amerika Selatan terdapat 100 kelompok bahasa yang berbeda; di Uganda dan Gabon terdapat 40 kelompok etnis; di Kenya terdapat 40 kelompok etnis; di Zaire terdapat lebih dari 200 bahasa yang digunakan; di Indonesia terdapat 300 kelompok etnis yang tinggal di 3.000 pulau. Semuanya bisa menyatu karena sisi sentuhan tinggi (high-touch) manusia, yaitu kedamaian dan pengertian terjaga dan terpelihara.

Indonesia adalah negara yang disatukan oleh keberagaman. Keberagaman bangsa Indonesia sangat unik, merupakan sumber kekuatan dan sampai kapan pun tidak akan punah dari bumi Indonesia. Kebesaran bangsa Indonesia karena keberagaman. Ini adalah fakta dan data. Kita dibutakan dari kebenaran jika tidak menghargai keberagaman. Sebab bangsa Indonesia bukan hanya sekumpulan golongan agama, suku, ras dan kelompok, namun bangsa Indonesia lebih besar daripada perbedaan agama, suku, ras dan kelompok, dan lebih besar daripada kepentingan sempit, sesat dan sesaat.
Bangsa Indonesia yang didiami beragam suku, agama dan ras tidak akan mengikuti jejak sejarah Sriwijaya dan Majapahit jika kita terus menaburinya dengan kerendahan hati dan kesanggupan untuk menahan diri. Kerendahan hati , mawas diri dan kesanggupan menahan diri merupakan senjata paling kuat untuk melemahkan dan mematahkan semangat orang-orang yang anti kemanusiaan dan tidak percaya bahwa keberagaman adalah ciptaan Tuhan. Jika kita menghargai keberagaman, batas-batas pemisah antara “luar” dan “dalam” akan runtuh dengan sedirinya lalu menyatu dalam penerimaan dan ketulusan yang holistik.

Sejak awal reformasi penolakan terhadap keberagaman begitu keras disuarakan. Keberagaman oleh mereka yang gamang (afraid) dijauhi dan ditakuti, lalu dimusuhi. Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia pada tahun 2006 dikeluarkan dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah karena dianggap mengekang kebebasan kelompok yang anti keberagaman.

Menyikapi ketakutan yang dibuat-buat dan berlebihan ini, mayoritas masyarakat Indonesia lintas suku, agama, ras dan golongan sangat prihatin, karena sesungguhnya yang dibutuhkan bangsa Indonesia bukan mengekang kebebasan agama dan melenyapkan keberagaman, tetapi kehidupan yang bermartabat dan berpengharapan, kehidupan yang aman dan berkeadilan.

Agama, Kebersamaan dan Kegamangan : Bagian Ketiga

Bangsa Indonesia adalah tempat semua hal yang berbeda, bukan hanya tempat untuk satu suku, satu agama, satu golongan atau satu ras, tetapi tempat untuk Indonesia yang beragam suku, agama, ras dan golongan. Semua keberagaman ini membuat bangsa Indonesia kaya, tapi bukan semua ini yang membuat Indonesia kuat, besar dan dikagumi oleh dunia luar; yang membuat kita kuat dan besar adalah semangat semua umat beragama untuk bersatu, hidup rukun dan menghargai keberagaman.

Keberagaman bukan ancaman yang harus dijauhi dan ditakuti, justru keberagaman merupakan kekuatan yang telah dicemburui bangsa lain. Keberagaman bangsa kita yang diformulasikan dalam kalimat Bhinneka Tunggal Ika mengandung nilai filosofi bahwa kita semua adalah satu bukan satu untuk semua. Kalau kita masih berhalusinasi (be seeing things) dengan keyakinan bahwa satu untuk semua, berarti kita memberi ruang bagi sebagian suku, agama dan etnis tidak mengakui adanya keberagaman.

Tinggal kita pilih! Jika kita memilih satu untuk semua; ini artinya kita mengejar mimpi-mimpi pribadi yang dibumbui kepentingan bersama dan atas nama agama. Sebaliknya jika kita memilih semua adalah satu; ini artinya kita percaya pada kebenaran ajaran masing-masing agama bahwa kita semua diciptakan setara dan dianugerahi hak untuk hidup, hak memeluk suatu agama dan sejumlah hak dasar lainnya yang tidak bisa diambil, dikekang dan diancam oleh siapa pun. (*)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading