Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Manado

Ai Berang, Camat Lurah serta Kepala Lingkungan tak Tanggap Miras

Aldi Mawitjere   |   20 September 2011 – 23:03 WITA
Wakil Walikota Manado

Harley 'Ai' Mangindaan

Manado Today – Tingginya angka kriminalitas yang disebabkan oleh miras akhir-akhir ini di Kota Manado, ternyata terus mendapat perhatian Wakil Walikota Harley Alfredo Benfica Mangindaan SE MSM. Tak pelak, Ai sapaan akrab Wawali merasa berang melihat kinerja aparat pemerintahan yakni Camat, Lurah dan Kepala Lingkungan yang kurang paham terhadap tugas dan tanggung jawab.

“Apakah saya yang tidak mampu membina dan mengarahkan Camat, Lurah dan kepala lingkungan, atau Camat, Lurah lingkungan yang tidak bisa menjabarkan tugas saya ke masyarakat,” tegas Ai saat memimpin rapat koordinasi bersama Wakapolresta, Dandim 1309 Manado, Selasa (20/9/2011), yang dihadiri oleh 504 Kepala Lingkungan, Lurah dan Camat.

Kandidat Doktor ini pun meminta kepada seluruh Kepala Lingkungan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, karena selain sudah diberikan insentif 2 juta tiap bulan, juga Pala merupakan garda terdepan dalam berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Kenyataan sekarag ini tindak kriminal dan kejahatan di wilayah kota meningkat. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang kinerja Camat, Lurah dan Kepala Lingkungan.

“Bagaimana kita bisa wujudkan Manado kota yang menyenangkan apabila situasi sekarang seperti ini. Untuk itu dimintakan peran serta dari seluruh aparat pemerintahan di tingkat Kecamatan, Kelurahan d?n lingkungan dalam hal keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing demi kemajuan Kota Manado dan kenyamanan kita semua yang tinggal di kota Manado,” tegasnya.

Sementara itu, Wakapolresta Manado, AKBP Jackson Lapalonga mengatakan, saat ini tugas Tuhan sudah mulai diambil oleh manusia. “Tugas untuk mengambil nyawa orang itu Tuhan. Tapi yang terjadi saat ini, manusia sudah saling membunuh. Itu artinya sudah melangkahi kewenangan Tuhan,” tandas Lapalonga.

Turut hadir dalam pertemuan kemarin, Dandim 1309 Manado, Letkol Bambang Irawan Wisnu. (ald)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

One Response »

  • Recky Tombokan mengatakan:

    Masalah miras bukanlah semata-mata soal dampak negatif yang timbul akibat konsumsi “aer kata-kata” di luar batas .

    Alkohol, bagi masyarakat Kawanua adalah masalah tradisi yang mengakar turun temurun. Meski begitu karakteristik ini kian terkikis dan terbatas pada kelompok tertentu saja dan secara khusus jelas bergantung kepada kondisi jiwa para penggunanya.

    Meniadakan budaya “melep” di bumi Nyiur melambai adalah suatu kemustahilan–hal yang sia-sia.

    Bergantung pada kapasitas Camat, Lurah, dan Pala bukanlah suatu langkah sakti karena dari segi struktur sosial ada jarak dan hubungan yang sifatnya fleksibel antara mereka sebagai pemimpin dengan para pecandu alkohol sebagai rakyatnya. Contoh sifat ini misalnya seseorang mabuk alkohol lalu mengganggu ketentraman lingkungan ternyata merupakan kerabat, tetangga, atau bahkan memiliki ikatan keluarga dengan katakanlah Pala setempat. Fleksibilitas ini bisa menjadi titik lemah dalam mengatasi masalah sosial akibat miras.

    Solusi yang terbaik, menurut saya, adalah “memelihara” tradisi ini lewat kontrol dan pengawasan yang ketat. Bagaimanapun juga, tubuh manusia membutuhkan alkohol dalam kadar standar.

    Maksud saya mengenai kontrol dan pengawasan yaitu Pemkot atau Dekot Manado, tergantung sifat kewenangannya, menerbitkan sebuah peraturan baru yang detail dengan sanksi tegas untuk mencegah dampak negatif akibat konsumsi berlebihan minuman keras sekaligus merubah pola konsumsi para peminum alkohol atau mungkin saja menjadi media bagi seseorang untuk berhenti dari kebiasaan ini. Peraturan ini bisa memuat unsur-unsur seperti
    1. Produksi dan peredaran miras
    2. Batas usia konsumen
    3. Lingkungan/kondisi alkohol bisa dikonsumsi

    Jika terjadi pelanggaran terhadap aturan di atas maka sanksi yang telah diatur dalam Perda miras ini HARUS diberlakukan tanpa pandang bulu. Sanksi pidana akan menjadi lebih bermanfaat dan manusiawi jika disertai upaya konstruktif dari segi psikologi, misalnya dengan mengadakan bimbingan spiritual selama menjalani hukuman pidana.

    Sudah saatnya Pemkot Manado berani melakukan tindakan nyata ketimbang menggunakan sarana klasik seperti himbauan, slogan-slogan, maupun teguran. Tidak manjur lagi resep seperti itu. Ingat, masyarakat sekarang sudah “kumabal” dengan bahasa-bahasa para pemimpinnya karena seringkali ucapan tersebut hanyalah “sorga talinga-gertak sambal alias cuma beking-beking tako”. Sebaiknya pemkot, lewat kekuatan hukum yang konsisten, obyektif dan proporsional disertai pendekatan psikologis yang konstruktif, tegas bersikap dan bertindak demi menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya berkaitan dengan masalah miras ini.

    “They speak of my drinking, but never think of my thirst.” ~Scottish Proverb

    Satu catatan buat pemkot dan kita semua:
    Kita selalu berbicara tentang seorang pemabuk tapi sering lupa memikirkan penyebab dia minum alkohol. Mungkin saja salah satu alasan dia minum alkohol dan mabuk kerena dia muak melihat kenyataan di sekitarnya bahwa ada di antara kita yang mabuk dengan jabatan, kepalsuan, dan keserakahan sebagai manusia???

    ALKOHOL sepadan dengan NAFSU. Jika berlebihan, membawa MALAPETAKA!!!

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading