Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Cerpen & Puisi

Kisah Eboni pada Satu Senja

Redaksi Manado Today   |   25 September 2010 – 12:30 WITA

Karya: Lingkan @kumabal

Dia masih berdiri tegar disitu. Berpandang-pandangan dengan Eboni kami. Ini satu ritual tiap senja. Nyaris setiap hari kami mengunjungi Ibu Eboni Diospyros.
Ibu Eboni Diospyros selalu menyediakan rumah terbaik untuk kami. Diospyros berasal dari kata deion yang berarti dewa dan puros yang artinya buah. Ia adalah buah para dewa yang memiliki rasa istimewa. Mungkin karena itu kami selalu merasa menjadi pasangan yang istimewa saat berada di tempat Ibu.Ibu?
Ibu adalah satu pohon Eboni rimbun di tepi sungai Lara; tempat kami tertawa, menangis, berdebat dan membagi mimpi setinggi langit dan bintang
Dia masih bergeming di sini. Berhadap-hadapan dengan Eboni kami. Menikmati temaram senja. Dia begitu ceria, seolah-olah dia adalah kami, seumpama dia sedang ada disampingku. Seperti ritual tiap senja.

Lihat kami Ibu Eboni, hingga kini pun kami tetap setia pulang padamu,
Kami anak-anak yang tak pernah lupa pulang ke rumah.
Kami anak yang manis, bukan?

Dia, aku, Ibu Eboni dan lagi-lagi senja ini sangat indah.

Dia menyentuh ukiran di pokok Eboni. Jari jemari yang sangat ku kenal itu menelusuri ukiran inisial nama kami. Aku melihat gumaman itu, “Aku slalu rindu kamu, Meilan”, bisiknya pada Ibu Eboni.

Ada bening yang hampir tumpah saat dia memandangku. Menelan gejolak rasa, membayang semua kenangan namun alih-alih menangis dia malah tetap tersenyum.

Waktu berputar, berpilin menembus batas akal dan nalar

***

“Moha, aku ukir namamu disini ya.” pintaku

Meilan Mohammad

“Ibu Eboni, tidak sakit kan ? Aku mengukirnya dengan sepenuh cinta kok”, bujukku sambil mengelus lembut batang pohon Eboni.

Aku ingat alasannya membujukku mengukir nama disitu, supaya Ibu Eboni tidak kesepian. Supaya cinta kami dapat menemani Ibu Eboni tanpa henti, bukan hanya kala senja.

Aku menggenggam tanggannya erat kala senja semakin sempurna. Terekam benar senja itu: Ada semburat merah di ufuk barat. Ada lembayung senja di garis kaki langit. Dan ada dia, sejauh genggaman tangan. Indah.

“Ayo berdoa Moha, ayo pejamkan matamu anak manis”, aku memimpin doa kami
tiap senja. Doa yang sama yang membuat Ibu Eboni hapal ejaan kata demi kata doaku. Ini bagian dari ritual senja kami. Syahdu.

“Tapi sayang.. Bagaimana dengan orangtua kita? Lalu bagaimana.. “, pertanyaannya
kugantung di udara. Ku kecup ringan bibirnya dan mengisyaratkannya untuk meneruskan doa.

Tanpa perintah,
Tanpa pertanyaan,
Hanya atas dasar keyakinan cinta
Aku sangat yakin cinta kami melebihi rintangan yang membatu.

Aku menggandeng tangannya pergi meninggalkan Ibu Eboni, tapi dia tidak sendirian lagi. Ada ukiran nama kami di situ hingga senja esok kami menyapanya lagi dengan segudang cerita

***

Hari ketujuh di bulan September. Senja yang ketujuh.
Aku tau benar, dia masih menggenggam tanganku erat di depan Ibu Eboni.
Aaahh, rumput bak terbakar api cemburu melihat genggaman tangannya.
Aaahh, induk pipit yang menyuapi anak kesayangannya sempat melirik ke arahnya.
Ritual tiap senja.

Hangat genggamannya masih sama, tapi ada yang lain. Ada sesak yang aneh di dadaku. Aku melihatnya, ada bongkahan bening yang pecah dari matanya. Satu, satu bulir air mata itu jatuh dari pipinya.
Aku tak tau, aku tak tahan. Entah ini airmatanya yang keberapa kali dalam hari-hari ini

Tiba-tiba semua ingatan itu berteriak di kepalaku
Aku ingat !!
Ini hari ketujuh sejak dia terakhir kali mengunjungi Ibu Eboni.
Ini hari ketujuh sungai airmataku meluap bersamanya, meluap diam-diam.
Ini hari ketujuh sejak aku pergi, meninggalkannya.
Ini hari ketujuh sejak aku hanya mampu melihat tanpa menyentuhnya

Senja ini makin paripurna. Merahnya sempurna. Semilir angin seakan memainkan waktu. Dingin menyergap relung hati paling dalam.

Ukiran namaku semakin memudar. Dadaku sakit, menusuk tajam. Tubuhku dingin, menggigil resah

Genggaman tangannya masih terasa.
Genggam tanganku masih kau pinta
Aku tidak gila.
Aku hanya tak kasat mata

“Aku selalu mencintaimu, Moha, Sayang”, ku kecup pipimu terakhir kali lalu aku menghilang bagai buih sabun.

Ukiran namaku pudar sempurna, tak tersisa.
Sudah saatnya.

= 2 September 2010 =
23:20

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

& Komentar »

  • from_heaven_with _fun mengatakan:

    Another story about love in diversity. Even it’s have no happy ending but still the feeling wouldn’t easily disappear like the scratch on the Ebony wood.

  • androe mengatakan:

    Terus terang saya bukan tipe orang yg romantis dan puitis, jadi rada ngantuk dan kaga ngerti setelah baca tulisan diatas. TAPI klo diibaratkan sebagai makanan, sepertinya si penulis (KUMABAL) so sweet dech!!! kaya lolipop heheheh

  • Dirno Kaghoo mengatakan:

    Ooooo Eboni, ukiran indah ditulis tangan dingin elegan. Aku trenyuh….:)

  • siniek mengatakan:

    very touching lingkan :) hanya sayang.. kurang panjang :D ayo buat lagi..

    ps : i like it when u call mohammad as ‘moha’

  • chaoka mengatakan:

    Nice story Lingkan, jadi penasaran karena benar-benar pendek ceritanya. Coba kalo jadi sebuah prosa, mungkin masih ada ruang bagi Lingkan untuk melepaskan talentanya dalam rangkaian kata yang membentuk kalimat penuh makna…. memang agak sulit untuk memahami karya sastra ini kalo tidak melibatkan emosi dan nurani dalam membacanya…saat membaca sekaligus menghayal membayangkan situasi yang coba di visualisasikan oleh Lingkan melalui hentakan jarinya diatas qwerty laptopnya…selamat Lingkan kembangkan terus talentamu, bakat luar biasa mengalir dalam kehidupanmu dan itu akan menjadi sebuah tonggak bangkitnya para sastrawan Sulawesi Utara yang saat ini rada-rada sepi karena terlindas oleh arogannya roda politik ! (banyak sastrawan SULUT banting stir menjadi politisi hihihikss)

  • leidy mengatakan:

    what a beautiful love story….

  • grand mengatakan:

    mmm…..mantappzz

  • sikuning mengatakan:

    nice…touching…flashback…loud of laugh!!! Damn..hahaha

  • Marthin_^) mengatakan:

    Karya yang sangat indah, mewakili rintian hati anak-anak muda, sebagaimana realita nyata ketika ortu tidak setuju atas hubungan pacaran anak muda tersebut. pohoh yang rimbun ditaman, menjadi saksi pertemuan dan perpisahan mereka atas sejuta tangis pula tawa yang pernah dilakuakan di bawah rimbunan pohon itu. Perpisahakan menandakan ukiran nama mereka di batang pohon itu, berharap suatu saat bisa bertemua lagi dan meneruskan kasih yang tak sampai itu. Jika cinta dipertahankan dengan kekuatan kita, maka itu bisa hilang, tetapi jika kita meminta pertolongan Sang Pemersatu cinta maka ada harapan akan adanya pertemuan lagi. __LOVE NEVER FAILS__ T’rims Lingkan buat karya yang sangat indah. GBU

  • "shoi" mengatakan:

    “ngegantung’ ceritanya lingkan.. msh pengen dibaca tp so ending.. hehehe..
    so far, nice story :-)
    next, mgkn kiasan puitisnya agak kurangin, biar yg nda trlalu suka puisi bs ngerti jg.. ^^

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading