Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Advetorial, Berita Pilihan

Laba BPD Bakal Tumbuh 30%

Redaksi Manado Today   |   14 April 2011 – 16:15 WITA
Jeffry J. Wurangian

Jeffry J. Wurangian

Jakarta – Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia bakal lebih ekspansif tahun ini dengan potensi pertumbuhan bisnis 30%, baik untuk kredit maupun mobilisasi dana pihak ketiga. Rata-rata pertumbuhan laba bersih BPD bisa mencapai 20-30%, bahkan beberapa di antaranya bisa jauh melampaui level itu.

Pencanangan BPD Regional Champion (BRC) beberapa waktu lalu menjadi tonggak kiprah BPD yang lebih agresif. BPD kini berlomba memupuk modal untuk mendukung ekspansi kredit, yang berpotensi mendongkrak laba. BPD juga berkomitmen memperbesar porsi kredit produktif agar menjadi agent of development di daerah masing-masing.

Demikian Direktur Utama Bank DKI Eko Dudiwiyono, Direktur Bank DKI Mulyatno Wibowo, Direktur Utama Bank Sulut Jeffry J. Wurangian, Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Winny Erwindia, seperti dikutip dari Harian Investor Daily.

Eko Budiwiyono, Winnywindia dan Jeffry Wurangian menegaskan bahwa selama ini pertumbuhan laba bersih BPD lebih tinggi dari rata-rata perbankan nasional.

Pada 2010, asset seluruh BPD (26 bank) mencapai Rp 239,14 triliun, atau 8 % dari total asset perbankan nasional yang mencapai Rp 3.008,85 triliun.

Meski penguasaan asset hanya 8%, dari sisi perolehan laba bersih, BPD menguasai 13,18%. Dari total perolehan laba bersih 2010 perbankan sebesar Rp 57,3 triliun, BPD mampu menorehkan l aba bersih Rp 7,51 triliun atau tumbuh 16% dari tahun lalu sebesar Rp 6,49 triliun.

Untuk pengucuran kredit, pangsa pasar BPD sebesar 8,2%. Tahun lalu BPD menyalurkan kredit sebesar Rp 143,7 triliun dari total kredit perbankan sebesar Rp 1.765 triliun atau meningkat 19% disbanding 2009.

Paraa direksi BPD tersebut meyakini bahwa rata-rata pertumbuhan laba bersih tahun ini minimal 20% bahkan bisa mencapai 30%. Eko, Mulyatno Wibowo dan Winny mengatakan, perencanaan program BRC itu berpotensi mendorong ekspansi bisnis BPD lebih agresif lagi. Eko memperkirakan pertumbuhan bisnis BPD secara national akan berada di atas rata-rata pertumbuhan bank nasional. Tahun ini diperkirakan bisa di atas 20%.

BRC disusun bersama oleh BPD dan Bank Indonesia sebagai peta jalan (roadmap) BPD hingga 2014 yang dicanangkan pada Desember 2010. Target BRC antara lain bahwa setiap BPD harus memiliki modal inti (tier 1) minimal Rp 1 triliun, CAR minimal 15%, pertumbuhan kredit minimal 20%, NIM maksimal 5,5%, BOPO maksimal 75% serta LDR 78-100%.

Winny menambahkan, BRC berpedoman pada tiga pilar, yakni ketahanan kelembagaan yang kuat, kemampuan sebagai agen pembangunan, dan kemampuan melayani kebutuhan masyarakat. Dengan pilar itu, kata dia, BPD akan menjadi tuan rumah di wilayahnya di tengah gempuran bank-bank umum yang masuk ke pelosok-pelosok.

Jeffry, Winny, Eko Budiwiyono dan Mulyatno menegaskan bahwa permodalan menjadi kunci penting untuk ekspansi bisnis. Untuk menaikkan permodalan, BPD bisa menempuh penawaran perdana (iInitial Public Offering/IPO) saham, penerbitan obligasi, penyertaan modal atau revaluasi asset.

Dengan modal yang kuat, kata dia, kapasitas untuk ekspansi kredit juga melonjak sehingga berpotensi mendongkrak laba. Beberapa BPD papan atas bahkan manargetkan ekspansi kredit minimal 25%.

Kredit Produktif

Eko dan Jeffry menyatakan, selama ini memanng BPD banyak menyalurkan kredit yang bersifat kensumtif, yakni untuk pegawai pemda. Namun, kedepan, komposisi kredit produktif akan semakin besar. “BPD Regional Champion akan mendorong BPD memperbesar kredit produktif. Dengan demikian komposisinya akan menjadi 60-40 antara kredit konsumtif dan produktif,” kata Jeffry.

Dia menyayangkan bahwa selama ini pola ekspansi perbankan nasional tidak adil. Bank-bank umum leluasa ekspansi ke daerah, bahkan di pelosok. Sementara BPD praktis hanya focus di daerahnya sendiri.

Karena itu Jeffry menyatakan BPD juga perlu ekspansi keluar daerah, tanpa melupakan kepentingan daerahnya. Bank Sulut sendiri saat ini sudah memiliki enam buah kantor di luar Sulawesi Utara dan Gorontalo yakni empat di Jakarta dan dua di Jawa Timur (Surabaya dan Malang).

Menurut dia, ternyata kantor di luar ini mampu menghimpun dana jauh lebih besar dibanding di wilayahnya sendiri. Enam kantor di luar itu mampu menghimpun dana masyarakat hamper Rp 1 triliun atau Rp 150 miliar per kantor. Sedangkan di wilayah Sulut-Gorontalo yang terdapat 37 kantor hanya mampu meraih Rp 2,3 triliun atau rata-rata Rp 60 miliar per kantor.

Baik Jeffry mauun Eko Budiwiyono sepakat bahwa BPD harus berani lebih agresif. IPO menjadi cara terbaik untuk memperkuat modal. Dengan IPO, kata Jeffry, bank akan lebih transparan dan independen. “Dan yang terpenting, intervensi bisa dikurangi,” tambah Jeffry.***

credit foto: Investor Daily

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Komentar ditutup.

Loading