Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Makna dan Nilai Filosofi “Torang Samua Basudara” : Bagian IV

Staff Manado Today   |   2 Juli 2012 – 20:39 WITA

Oleh : Soleman Montori

Torang Samua Basudara Adalah Suatu Kesadaran Holistik

Soleman Montori 1

Soleman Montori

Torang Samua Basudara adalah suatu kesadaran holistik yang menyatu dengan degup jantung perbedaan. Torang Samua Basudara bukan hanya sekedar gagasan atau cita-cita besar yang tidak bisa dilakukan, tetapi suatu kenyataan yang telah membawa perubahan untuk perbaikan hidup bersama.

Pembangunan berkembang, pertumbuhan ekonomi meningkat, adalah bukti bahwa Torang Samua Basudara memiliki nilai jual dan nilai ekonomi lebih laris daripada “bisnis kebencian” yang dilakukan oleh orang-orang berpikiran kerdil, yang akhir-akhir ini makin menguat pada beberapa daerah.

“Bisnis kebencian” yang makin menguat saat ini adalah problem bagi bangsa Indonesia. Gema kebaikan kadang terdengar sayup. Mengapa? Karena ada kelompok yang tidak termasuk elemen yang mendirikan bangsa Indonesia, dan mereka tidak mengetahui bahwa bangsa Indonesia yang diciptakan beragam adalah karena rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Juga mereka tidak mengetahui bahwa prestasi terbaik dalam hidup manusia adalah menghargai keberagaman. Diri sendiri memang lebih penting, tapi jauh lebih penting jika kita mampu menghargai orang lain yang berbeda; berbeda suku, agama, ras dan antargolongan, bahkan berbeda cara berpakaian dan apa yang di makan.

Di Papua misalnya, khususnya yang masih primitif berbaju koteka. Demikian halnya dengan apa yang dimakan oleh berbagai suku bangsa Indonesia, sangat-sangat beragam.

Dalam filosofi Torang Samua Basudara, perbedaan-perbedaan tersebut tidak menjadi masalah, tetapi dihargai dan dihormati sebagai kekayaan dan disyukuri sebagai anugerah Sang Pencipta.

Sulut tidak mudah disulut karena tidak memiliki karakter bermusuhan dengan agama, hukum, ketentraman dan kenyamanan. Sejak berdirinya Sulawesi Utara dan secara khusus kota Manado sebagai ibu kotanya, semua elemen masyarakatanya telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan nyata bahwa hidup rukun dan damai adalah hal yang indah.

Torang Samua Basudara merupakan kekuatan moral bagi generasi penerus agar tidak mengurangi harapannya untuk memberi pencerahan dan kebaikan hidup kepada orang-orang atau kelompok yang memiliki jaringan kekerasan dan kebencian.

Torang Samua Basudara didasarkan pada ide bahwa semua orang diciptakan sama dan setara; dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang menghancurkan dan memisahkan.

Dalam filosofi Torang Samua Basudara, pintu kesempatan terbuka untuk semua, dan tidak memandang perbedaan sebagai alat pemisah untuk memecah belah. Masyarakat Sulut dan kota Manado sebagai ibu kotanya menyadari, menghayati dan meyakini bahwa hak untuk hidup, memeluk agama, kebebasan dan kebahagiaan adalah angerah Sang Pencipta yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.

Sulut memiliki sumber daya alam yang kaya, tapi bukan itu yang membuat Sulut kaya. Sulut memiliki sumber daya manusia yang cerdas, tapi bukan itu yang membuat Sulut cerdas. Sulut kaya akan seni tradisional dan budaya warisan leluhur, tapi bukan itu yang membuat daerah lain datang mengaguminya; SULUT terkenal dan sulit disulut karena adanya semangat Torang Samua Basudara. Dengan semangat Torang Samua Basudara, Sulut dan kota Manado sebagai ibukotanya menjadi tempat untuk semua hal yang baik dapat terjadi.

Menghargai perbedaan walaupun ditantang dengan berbagai cara jauh lebih penting ketimbang mempertentangkannya. Kita semua menghuni dunia ini hanya untuk waktu yang singkat. Apakah kita melewatkan waktu yang singkat itu hanya dengan terus mempertentangkan perbedaan? Ataukah kita mendedikasikan diri pada usaha-usaha yang menghargai perbedaan? Menghargai perbedaan bagi sebagian orang adalah pekerjaan yang tidak mudah; lebih mudah mencurigai orang lain daripada melakukan introspeksi diri; lebih mudah melihat apa yang berbeda pada diri orang lain daripada menemukan kesamaan orang lain di dalam diri kita.

Namun, ada sebuah aturan yang merupakan inti dari masing-masing agama yang kita yakini bahwa kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku lintas benua dan lintas masyarakat yang mendiaminya.

Keyakinan yang tidak baru ini, tidak biru, tidak kuning, tidak merah, tidak hijau, dan tidak ungu; sampai kini masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia di dunia. Keyakinan ini merupakan rasa percaya pada orang lain, dan keyakinan inilah yang membuat masyarakat Sulawesi Utara dan kota Manado sebagai ibukotanya saling mendengar, saling belajar dan saling percaya dalam kredo Torang Samua Basudara.

Torang Samua Basudara, walaupun berbeda-beda, tetapi satu dalam persaudaraan tidak hanya ekspektasi masyarakat kota Manado atau masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya, tetapi merupakan ekspektasi para the founding fathers pendiri bangsa Indonesia yang diformulasikan dalam kalimat Bhinneka Tunggal Ika. Beda suku, agama, golongan, budaya dan berbagai perbedaan lainnya tidak hanya ada di Sulawesi Utara, tetapi ada di seluruh wilayah nusantara.

Dengan kata lain, Torang Samua Basudara tidak hanya ada di Sulawesi Utara dan kota Manado sebagai ibukotanya, tetapi seharusnya ada di seluruh wilayah NKRI. Warisan bangsa yang berharga adalah menghargai perbedaan. Bangsa kita akan menjadi kuat seiring dengan bertambahnya kemampuan kita menghargai perbedaan. Sangat tidak beradab jika ada yang menyangkal adanya perbedaan, dan yang melakukannya merupakan musuh HAM.

Menghargai perbedaan bukan karena pilihan, tapi karena perlu; orang yang tidak mau menghargainya dibutakan dari kebenaran. Pandangan anti perbedaan yang terus didorong oleh kekuatan yang membantu membenarkannya akan kehilangan kebenaran palsunya di daerah yang menghargai perbedaan dan berkorban demi kebersamaan. Hanya 1 % penduduk Indonesia yang mempercayai bahwa hidup dalam perbedaan tidak penting dan tidak baik. Sedangkan 99 % sisanya menghargai perbedaan dan percaya bahwa perbedaan tidak akan musnah dari permukaan bumi.

Hal ini diyakini lebih dari 200 juta penduduk Indonesia; sungguh suatu jumlah yang lebih besar daripada kebencian dan kepentingan sempit sekelompok orang. Jika ada yang mempermasalahkan dan merasa terganggu dengan adanya perbedaan, itu adalah hak mereka, tapi bukan itu yang mempersatukan bangsa Indonesia. Satu suku, satu agama, satu ras, satu bahasa; juga bukan semua itu yang mempersatukan kita. Kita hanya bisa menemukan kekuatan dan kejayaan bila Torang Samua Basudara, menghargai perbedaan atau Si Tou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk menghidupi sesama manusia yang lain). (selesai)***

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading