Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Opini Today

Makna Dan Nilai Filosofi “Torang Samua Basudara”

Staff Manado Today   |   28 Juni 2012 – 19:49 WITA

Oleh : Soleman Montori

Soleman

Soleman Montori

MASA depan Sulawesi Utara dan bangsa Indonesia yang damai, rukun dan sejahtera hanya dapat dicapai jika semua elemen masyarakat mengakui bahwa Torang Samua Basudara, menghargai perbedaan, dan memberi ruang untuk keberagaman berakar kuat.

Provinsi Sulawesi Utara dibawa kepemimpinan Dr. S.H. Sarundajang dan kota Manado sebagai ibu kotanya dibawa kepemimpinan pasangan walikota-wakil walikota, Dr. G S. Vicky Lumentut-Harley A B. Mangindaan, SE; MSM, kini kian populer di tanah air bahkan sampai tingkat dunia, karena ketenangan dan kerukunannya. Daerah lain saat terjadi krisis kerukunan intern dan antarumat beragama maupun krisis kepercayaan umat beragama terhadap pemerintah, kerukunan umat beragama di Manado sebagai kota model ekowisata dan kerukunan masyarakat Sulawesi Utara pada umumnya tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Perorangan, organisasi sosial dan kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan tokoh agama; semuanya berperan serta, berpartisipasi aktif dan bersatu memelihara dan menjaga kerukunan, persaudaraan dan kebersamaan dengan kredo kearifan lokal Torang Samua Basudara.

Masyarakat Sulawesi Utara umumnya dan secara khusus kota Manado sangat menyadari dan memahami bahwa perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan, dan berbagai perbedaan lainnya bukan ancaman untuk hidup bersama. Masyarakat Sulut dan Manado sebagai ibukotanya memandang tidak ada untungnya jika mengancam dan merasa terancam dengan perbedaan.

Di dunia mana pun, tidak ada manusia yang sama, bahkan yang kembar sekali pun tetap berbeda, karena manusia diciptakan oleh Tuhan dengan sejumlah perbedaan di dalam dirinya. Kredo Torang Samua Basudara bukan untuk menyatukan perbedaan atau untuk menyamakan keberagaman, tetapi untuk mengakui dan memahami bahwa perbedaan adalah hal yang indah dan mengandung nilai kehidupan.

Sejarah telah mencatat bahwa bangsa yang maju dalam berbagai bidang kehidupan adalah bangsa yang menghargai perbedaan. Abad 20 yang telah kita lalui mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki nasib yang sama. Abad 21 mengungkapkan kepada kita bahwa antara dunia yang satu dengan dunia yang lainnya saling berhubungan.

Ini mengandung arti bahwa tidak seorang pun atau tidak ada kelompok atau golongan mana pun dalam masyarakat yang heterogen menjadi besar dan kuat, dan mampu mengatasi tantangan sendirian. Tapi terkadang kebenaran ini mudah dilupakan, akhirnya beberapa daerah dalam wilayah NKRI melupakan nasib bersama bahwa Torang Samua Basudara. (bersambung)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

One Response »

  • John F. Liow mengatakan:

    Berbagi untuk semua. Ujung2nya kebersamaan dalam kehidupan dan kedamaian hidup. Bahwa damai itu indah karena menciptakan ketenangan. Semua pasti ingin hidup, hidup dan hidup. Tetap semangat !
    BTW, (buat redaksi) alangkah baiknya “data singkat” tentang penulis ditampilkan, karena ini adalah opini.
    Terima kasih, sambil menunggu lanjutan tulisan ini. GBU

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading