Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Berita Pilihan, Opini Today

MILITANSI: Teologi atau Ideologi?

Redaksi Manado Today   |   16 Juli 2010 – 11:29 WITA

Oleh: Pdt Nico Gara

SAYA tergelitik menulis artikel ini karena munculnya dikotomi atas warga GMIM dan pelayan khusus GMIM sebagai yang militan dan tidak militan. Saya termasuk yang digolongkan sebgai diragukan militansi terhadap GMIM. Itulah yang mendorong saya untuk menjelaskan apa sebenarnya militansi itu, apakah militansi itu ideologi atau teologi atau keduanya?

Pengertian militansi
The Amrican Heritage Dictionary of English of the English language memberi pengertian pada militant itu sebagai berikut:
Having a combative character, aggresive, escpecially in the service of a cause: a militant political activist.
(Memiliki suatu karakter menyerang; agresif, khususnya dalam pelayanan seorang aktivis politisi yang militan.)
Bandigkan pula dengan Longman Dictionary Of contemporary English
A militant organization or person is willing to use strong or violent action in order to achieve political or social change.
(Suatu organisasi atau seorang militan adalah rela menggunakan tindakan kekerasan untuk mencapai perubahan politik atau sosial.
Dari kedua definisi tadi jelas bahwa istilah militan adalah istilah politik baik sebagai organisasi maupun sebagai pribadi aktivis politik.
Namun demikian sudah menjadi kenyataan bahwa istilah ini sudah diterapkan dalam kehidupan keagamaan. Hubungan antar agama di dunia mempunyai lembaran sejarah hitam dalam suatu peristiwa panjang yang disebut perang salib atau perang sabil, yang sadar atau tak sadar menjadi luka lama yang sering dingkit-ungkit sebagai alasan untuk mencitapakan konflik antara agama. Indonesiapun pernah mengalami yang sama paling tidak di Maluku, Maluku Utara dan Poso. Saya mendengar bahwa salah satu alasan yang digunakan para provokator adalah “luka-lama” tadi.
Kenyataan sejarah itu membuktikan ideologi politik kekerasan itu juga sedang merasuk agama-agama, terutama di saat-saat agama bersinggungan dengan kepentingan politik. Perang Salib sebenarnya adalah urusan politik dengan bertopeng simbol salib. Konflik yang membawa-bawa nama agama di Poso, Maluku Utara dan Maluku juga sarat dengan kepentingan politik yang dibungkus dengan dalih agama. Bahwa tindakan para teroris yang militan itu sesungguhn mempunyai kepentingan politik yaitu untuk mendirikan Negara dengan memperalat agama sebagai landasannya.
LANDASAN TEOLOGI
Apa yang saya kemukakan di atas merupakan analisis yang bersifat sosilogis-historis. Tapi untuk menguji apakah militansi itu teologi atau bukan, baiklah saya mengkaji pemahaman GMIM tentang dirinya sendiri yang bahasa kerennya disebut eklesiologi. GMIM memahami dirinya sebagai Tubuh Kristus. Eklesiologi ini tidak pernah berubah sejak pertama kali ada tatagereja GMIM sampai sekarang (Tatagereja 2007). Karena pemahaman sebagai Tubuh Kristus bukanlah definisi tapi citra, marilah kita kaji apa makna dibalik citra gereja sebagai Tubuh Kristus itu. Setidaknya ada enam ciri dari Gereja sebagai Tubuh Kristus.
Pertama, bahwa dalam gereja berlaku Kristokrasi atau pemerintahan Kristus, karena Dialah Kepala Gereja. Artinya dalam setiap pengambilan keputusan, selalu harus didasarkan pada kehendak Kristus. Sebagai Kepala Gereja, maka Kristus bukan hanya sebagai yang memerintah, tetapi juga sumber hidup gereja.
Kedua, meski gereja itu satu Tubuh, tapi terdiri dari banyak anggota. Setiap anggota mempunyai peran masing-masing dalam berpartisipai untuk pelayanan dan pembangunan Tubuh itu sendiri n(Ef. 4:12). Partisipasi berarti mulai dari pengambilan keputusan, perencanaan sampai pada pelaksanaan pelayanan dan pembangunan. Partisipasi dalam pengambilan keputusan berarti di sana ada demokrasi. Tapi demokrasi dalam gereja bukan demokrasi demi demokrasi itu sendiri, melainkan demokrasi yang bersumber dari Kristokrasi. Demokrasi di gereja meneladan dan mengacu pada pola hidup Kristus selama di dunia dan kehendak Kristus.
Ketiga, Tubuh Kristus itu bersifat universal. Artinya gereja ada di segala waktu dan tempat. GMIM bukan satu-satunya Gereja. Inilah yang mendasari keterlibatan GMIM bersama gereja-gereja untuk terlibat dalam gerakan oikumene. Bahkan sifat universal itu tercermin dalam penghayatan GMIM akan tema gereja-gereja di Indonesia sekarang ini ‘TUHAN itu baik kepada semua orang…” Universalitas juga mencakup sifat inklusivitas dari GMIM. Sifat eksklusivitas yang menjadi salah satu ciri pokok kaum militant bukanlah pencerminan dari Gereja yang bersifat universal dan inklusif.
Keempat, Gereja sebagai Tubuh menunjuk pada ketertiban. Gereja harus menunjukkan ketertiban hidup selaku Gereja dan bukan seperti organisasi kepentingan lain, misalnya organisasi politik.
Kelima, ciri dari tubuh itu adalah bertumbuh menuju kedewasaan. Gereja yang bertumbuh berarti gereja yang kemudian memberi buah-buah, yaitu buah-buah kasih, sebagaimana dengan kuat dilukiskan dalam Efesus 4:15-16
tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, —yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Keenam, lukisan Gereja sebagai tubuh menunjukkan pada kesatuan Gereja sebagai satu hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Gereja harus menolak segala kemungkinan yang hendak merusak kesatuan gereja, baik dari dalam maupun dari luar. Gereja tidak boleh pecah belah hanya karena kepentingan sesaat, misalnya karena ada Pemiukada, seperti yang sedang hangat-hangatnya kita alami sekarang.
Di awal tahun 2000-an GMIM sempat disibukkan dengan wacana pembentukan Militia Christi. Saya salah satu yang tidak setuju dengan wacana itu. Alasan yang ditunjukkan kepada saya untuk gagasan ini adalah Efesus 6:10 dstnya. Di sana memang disebut supaya jadi kuat (ayat 10), tapi kuat bukan sekaligus dengan aksi kekerasan. Kuat dengan perlengkapan bukan untuk kekerasan. Sebab kekuatan itu bersumber dari peralatan “perang” sebagai berikut:
berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. (ayat 14-18).

Saya kemudian secara terang-terangan mengatakan kepada para penggagas bahwa ide Militia Christi itu bukanlah gagasan Alkitabiah, tapi mau menyaingi kaum militant yang waktu ini menamakan diri sebagai Laskar Jihad, yang oleh kebanyakan Muslim di sini malah ditolak, karena tidak sesuai dengan makna jihad yang sesungguhnya. Dengan kata lain gagasan Militia Christi sebenarnya adalah ideologi politik yang memakai nama Christi. Padahal Kristus yang datang kedunia bukanlah Kristus yang militan, datang dengan kuasa dan kekerasan. Ia justru jadi korban kekerasan dari kolaborasi antara penguasa agama dan penguasa politik waktu itu. Tapi dengan sikap mengorbankan diri itulah jalan keselamatan terbuka.
MILITANSI BUKAN TEOLOGI GEREJA TAPI IDEOLOGI DARI LUAR GEREJA
Dari paparan dan kajian di atas, maka jelaslah sudah bahwa semboyan militansi GMIM yang cenderung bersifat eksklusif dan bahkan memusuhi yang di luar itu, bukanlah sikap teologi yang Alkitabiah, tetapi ideologi politik yang dibungkus dengan nama agama atau Gereja. Ini suatu tanda awas bagi Gereja, bahwa ia sedang “digarami” oleh ideologi politik. Kalau ini benar, maka hatilah bahwa gereja sebagai garam sedang menjadi tawar dan akan diinjak-injak orang.
Di tengah situasi politik yang semakin memanas sekarang ini, Gereja perlu menunjukkan jati dirinya sebagai pembawa berita tentang kasih, kerukunan dan perdamaian. Di tengah sikap para kandidat dan partai pendukungnya yang semakin ekslusif dan militan, Gereja perlu menunjukan sikap inklusif sebagai wujud dari keyakinan bahwa TUHAN itu baik kepada semua orang. SEMOGA!
Talawaan, 16 Juli 2010

Penulis adalah Tokoh Panutan Sinode GMIM

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

& Komentar »

  • rizky mengatakan:

    jempol buat Yth pak Pdt Nico Gara

  • johny galag mengatakan:

    saya salut kepada PENDETA DR. NICO GARA. yang menerangkan bahwa penulis adalah TOKOH PANUTAN GMIM. untuk itu saya mohon bantu BPMS GMIM , untuk menjelaskan tentang keberadaan sekolah bahasa jepang yang ada di Bukit Inspirasi Tomohon. Karena kami di OARAI JAPAN khususnya GMIJ “BETLEHEM OARAI” sangat baik hubungan kami dgn para pemerakarsa dari pihak Jepang. terima kasih, TUHAN BERKATI.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading