Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Advetorial

Momentum Tepat Go Public, BPD Perlu Tambah Modal

Redaksi Manado Today   |   13 April 2011 – 21:55 WITA

Dari Investor Daily Forum di Jakarta

bank sulutPotensi Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menjadi regional champion sangat besar, bahkan bisa berkiprah di pasar nasional maupun internasional. Syaratnya, modal BPD harus diperkuat agar mampu ekspansi dan berdaya saing tinggi.Penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham merupakan salah satu opsi yang patut diperhitungkan untuk menambah permodalan.

Selain dapat meningkatkan good corporate governance (GCG), IPO akan menaikkan pangsa kepemilikan masyarakat sehingga fungsi kontrol meningkat. Kondisi ini akan menciptakan transparansi yang pada akhirnya memompa kinerja BPD. Demikian benang merah dari Investor Daily Forum di Jakarta, pecan lalu, dengan tema Saatnya Bank BPD Go Public. Forum diskusi itu menampilkan sejumlah pembicara seperti

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Wimboh Santoso, Chief Economist PT Danareksa Sekuritas Purbaya Yudhi Sadewa, Dirut Bank Sulut Jeffry J Wurangian, Direktur Bank Jabar Banten (BJB) Tatang Sumarna, Dirut PT Ciptadana Securities Ferry Budiman Tanja, dan Direktur Pemeringkatan PT Pefindo Salyadi Saputra. Diskusi dipandu PemredInvestor Daily Primus Dorimulu.

Semua panelis mengakui, potensi BPD untuk bertumbuh sangat besar karena mempunyai sejumlah keunggulan, antara lain pasar yang pasti (captive market), baik untuk pendanaan (funding) maupun kredit (lending). Funding berasal dari dana-dana pemda, sementara penyaluran kredit umumnya kepada pegawai negeri sipil (PNS) yang mempunyai tingkat kolektibilitas tinggi.

Belakangan ini, banyak BPD memperluas basis debitornya ke sektor produktif, tetapi rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) tetap kecil, sekitar 2,06% di bawah rata-rata perbankan nasional sekitar 2,56% per Desember 2010. Sementara itu, margin bunga (net interest margin/NIM) BPD pada periode tersebut sekitar 8,74%, lebih tinggidibanding rata-rata bank nasional sekitar 5,73%.

Chief Economist PT Danareksa Sekuritas Purbaya Yudhi Sadewa menilai dengan prospek ekonomi yang baik hingga beberapa tahun ke depan, sekaranglah saatnya untuk melakukan ekspansi bisnis. “Sekarang pula saat yang tepat bagi bank BPD untuk go public,” kata Purbaya seperti dikutip dari Harian Investor Daily.

Menurut dia, perekonomian Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi, yang diperkirakan dapat berlangsung hingga tahun 2016 mendatang.Karema itu perusahaan nasional termasuk dunia perbankan berpeluang besar untuk terus berekspansi. Indonesia, lanjut dia, merupakan negara yang akan tumbuh paling tinggi dan berpotensi besar menarik investasi asing.

“Ini waktu yang tepat untuk ekspansi bisnis dan pemberian kredit. Kita punya waktu lima tahun lagi untuk melakukan hal itu,” ujarnya. Dia menilai, sistem perbankan berada dalam kondisi yang cukup kondusif seiring dengan perbaikan kondisi perekonomian, penurunan suku bunga dan penguatan nilai tukar Rupiah.

“Perbankan Indonesia mencatat kinerja yang semakin membaik.Karena itu inilah saatnya untuk melakukan ekspansi bisnis. Sekarang pula saat yang tepat bagi bank BPD untuk go public,” tukas Purbaya Yudhi Sadewa mengulangi penegasannya.

Momentum Bagus

Sementara itu, menurut Sunarsip, ekonom dan Kepala The Indonesia Economic Intelligence (IEI) rencana sejumlah BPD melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini, ingin mengikuti jejak yang sudah dirintis Bank Jabar Banten yang telah melakukannya pada akhir 2010. Mungkin ada yang bertanya, mengapa BPD harus masuk ke pasar modal melalui IPO.

IPO atau go public bagi BPD sejatinya memiliki dimensi yang luas. Tapi, harus diakui, dalam konteks BPD, sasaran pertama yang hendak diraih dari IPO adalah penguatan permodalan.Sebagian besar BPD memang kekurangan modal. Bukan karena tidak mampu memenuhi ketentuan minimal modal yang dipersyaratkan Bank Indonesia, tapi lebih karena kebutuhan untuk mampu beroperasi sebagai bank komersial yang kompetitif.

Di sisi lain, mengandalkan sumber-sumber permodalan dari penambahan modal melalui APBD serta laba ditahan (retained earning) merupakan suatu hal yang sulit diwujudkan. IPO akhirnya menjadi the best way untuk mengatasi berbagai kendala tersebut.Dalam manajemen perusahaan modern, sebuah kenaifan bila perusahaan hanya mengandalkan pertumbuhan secara organik. Tanpa menempuh strategi pertumbuhan in-organik, perusahaan pada akhirnya akan terpinggirkan.

Makanya, untuk bisa tumbuh, baik secara organik maupun in-organik, dibutuhkan modal yang kuat. Tanpa modal yang kuat, akan sulit bagi BPD untuk berkompetisi secara berimbang dalam industrinya.

BPD Regional Champion

Tentu, bagi BPD, IPO memiliki dimensi yang luas, tidak hanya untuk memperkuat permodalan. IPO juga untuk mendorong terwujudnya pilar-pilar BPD sebagai sebuah bank yang utuh. Apalagi, pada 21 Desember 2010 lalu, BPD seluruh Indonesia telah mencanangkan cita-cita menjadi ?BPD Regional Champion? (BRC). Ini berarti BPD harus keluar dari bayang- bayang selama ini: hanya sebagai kasir pemerintah daerah.

Melalui BRC tersebut, visi yang dikembangkan bagi BPD ke depan adalah ‘Menjadi bank terkemuka di daerah melalui produk dan layanan kompetitif dengan jaringan luas yang dikelola secara profesional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi regional’.

Lalu, di mana kaitan antara IPO BPD dan BRC tersebut?Pertama, untuk mewujudkan ketahanan kelembagaan yang kuat, syarat pertama adalah memperkuat permodalan. Penguatan permodalan melalui IPO juga memiliki tujuan untuk memperkuat ketahanan kelembagaan, sehingga tatkala ada gejolak yang berpotensi menimbulkan instabilitas, BPD akan mampu mengatasinya.

Kedua, untuk mewujudkan posisinya sebagai agent of regional development, BPD harus didorong untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan melalui pemberian kredit yang poduktif.

Tidak mungkin bagi BPD yang modalnya pas-pasan, berani masuk ke sektor produktif skala besar.Dengan kata lain, IPO mengarahkan BPD agar betul-betul menjadi bank pembangunan, yaitu bank yang core business-nya? adalah membiayai sector produktif.

Selain itu, IPO juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengakselerasi pertumbuhan kredit produktif di daerah melalui keterlibatan aktif masyarakat. Bagaimana caranya? Dengan menjadikan BPD bank milik publik, masyarakat di daerah pun punya hak untuk membeli saham bank ini. Melalui saham yang dimilikinya, masyarakat dapat terus memonitor BPD untuk memenuhi komitmennya dalam pembangunan ekonomi di daerah melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS).

Ketiga, untuk dapat melayani kebutuhan masyarakat, setidaknya BPD harus mampu mewujudkan beberapa indikator berikut:

(a) mampu memberikan kemudahan akses layanan keuangan seluas-luasnya terutama kepada masyarakat kecil;

(b) memiliki kualitas SDM profesional;

(c) memiliki produk-produk unggulan yang menjadi andalan making profit

bagi BPD dan juga dibutuhkan masyarakat luas;

(d) memiliki jaringan layanan kantor

yang luas hingga tingkat kecamatan; dan

(e) memiliki dukungan teknologi informasi

yang andal untuk menjalankan operasional dan layanan perbankan.

2011, Kesempatan Bagus

Tahun ini adalah momentum tepat bagi BPD untuk IPO. Kuatnya aliran hot money yang terus masuk ke Indonesia merupakan kesempatan bagus bagi BPD untuk go public. Akibat ketidakseimbangan global yang terjadi saat ini, arus modal mengalir dari negara maju ke negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mencari peluang investasi yang lebih menguntungkan.

Bagi emiten, IPO akan memberi berkah karena sahamnya akan laku di pasar dengan harga yang wajar. Secara nasional, situasi ini akan menyebabkan nilai tukar dan bursa saham menguat sekaligus akan membantu Negara dalam menyerap arus modal masuk ke sektor riil, tidak sekadar menjadi sumber cadangan devisa.

Kondisi internal BPD sendiri saat ini cukup bagus. Pada 2010, laba tahun berjalan BPD mencapai Rp 8,8 triliun atau tumbuh sekitar 19% dibandingkan kinerja 2009 yang mencapai Rp 7,4 triliun. Dalam lima tahun terakhir ini, tingkat pertumbuhan laba rata-rata mencapai sekitar 20%. Berdasarkan analisis di atas, jelas IPO memiliki dimensi penting bagi BPD.Momentumnya juga cukup baik, ditopang lagi oleh kinerja BPD yang mengesankan. Tahun 2011 ini akan menawarkan transaksi yang menguntungkan, tidak hanya bagi BPD, tapi juga bagi investor yang membeli saham BPD.

BPD Jadi Motor Penggerak Ekonomi

Dengan segala keunggulan yang dimilikinya itu, Bank Indonesia mengharapkan BPD dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan memiliki kesempatan mengembangkan usaha di daerahnya. Selain itu, BDP juga dapat meningkatkan transparansi dan good corporate governance (GCG) dengan penawaran umum saham perdana.

“IPO juga untuk meningkatkan governance dari bank itu semakin banyak shareholder perbankan akan semakin baik fungsi kontrol yang menciptakan transparansi,” tutur Wimboh Santoso, Direktur Direktorat Penelitian dan Perbankan BI

Menurut Wimboh, peningkatan permodalan BPD diharapkan dapat mendukung perkreditan dan antisipasi jangka panjang liberalisasi sektor keuangan pada 2020. “Tier one BPD sebesar Rp 896,3 miliar tentu masih jauh untuk mendukung pertumbuhan kredit hingga 2020. Jumlah itu masih di bawah rata-rata modal perbankan nasional sebesar Rp 2,41 triliun. Jumlah itu masih cukup jauh sehingga CAR perlu ditingkatkan,”ujar Wimboh.

Dijelaskan lebih lanjut, pertumbuhan kredit BPD sebesar 21% sedangkan bank nasional sebesar 22%. Penyaluran kredit ini diperlukan di tengah pertumbuhan ekonomi

Indonesia cukup baik sekitar 6% – 7%. Selain untuk penyaluran kredit, dana hasil penawaran umum saham perdana juga dapat digunakan untuk mendukung infrastruktur seperti pengembangan informasi dan sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, peningkatan modal ini dilakukan untuk mengantisipasi liberalisasi sector keuangan. Wimboh menuturkan, Indonesia menjadi tempat menarik karena menghasilkan margin keuntungan paling besar. Hal ini didukung jumlah penduduk besar dan sumber daya alam.Bank-bank asing melihat itu sebagai peluang.”BPD jangan sampai kalah bersaing dengan bank lain yang tidak berdomisili di daerahnya dan negara Indonesia,” kata Wimboh.

Wimboh mengharapkan, BPD dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan memiliki kesempatan mengembangkan usaha di daerahnya. Selain itu, BDP juga dapat meningkatkan transparansi dan good corporate governance (GCG) dengan penawaran umum saham perdana.(***)


Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Komentar ditutup.

Loading