Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Headline, Hukum dan Kriminal, Minahasa Tenggara

MTCW Beberkan Bukti Kasus Dugaan Mark-Up Lahan Pemkab Mitra

Redaksi Manado Today   |   17 Januari 2011 – 12:39 WITA

Manado Today-Ditetapkanya lima tersangka mark-up pengadaan lahan Pemkab Mitra masing- masing HS alias Hilda, AP alias Arsad berasal dari unsur pemerintah, sedangkan OCO alias Ongel, IA alias Ivan dan JA alias Jhon merupakan pemilik tanah.

Ketua MTCW Mitra Oding Rantung pada manadotoday Senin (16/01/2011) pagi tadi menyebutkan, didalam pembelian tanah tersebut yang luas lahannya sekitar 27 Hektar ini dibeli dari empat orang pemilik. selanjutnya untuk sebagian lahan yang sebenarnya memang milik pemerintah yang sekarang menjadi lokasi perkantoran , sampai dengan saat ini tidak diketahui apakah itu termasuk dalam angaran sebelumnya atau atau tidak.

Sedangkan Sedangkan Kwitansi pembelian yang merupakan bukti ada pada tersangka. Dan yang menjadi dugaan mark up datang pada (OCO) alias olgel, sebab ada dua lahan dari pemilik pertama yang di beli oleh OCO, antara lain pada keluarga Ronsul Dan Rogahang dengan harga yang sanggat murah kemudian di jual ke Pemkab Mitra dengan harga yang sangat tinggi, mencapai kisaran Rp. 3,5 M. Padahal yang sebenarnya tahah sekitar 10 hektar ini di beli pada keluarga Ronsul Dan Rogahang sebesar Rp.700 juta saja. Sehingga dari pihak MTCW menduga Mark up atas lahan pemkab tersebut terjadi disini. Sedangkan untuk (IA) alias Ivon dan (JA) alias Jhon tanahnya dijual melalui pihak panitia pembebasan lahan Pemkab Mitra. Selanjutnya, bukti penjualan tanah yang ada Pada data MTCW mitra untuk kwitansi penjualan tanah yang tertanggal 19 desember 2009 atas nama (IA) alias Ivon dengan harga Sekitar Rp 481 juta dengan luas lahan sekitar 2 hektar, dan untuk tanggal 22 desember 2009 yang menjadi kwitansi kedua,nominalnya tidak tau kemana, “kata Rantung.

Selanjutnya Rantung mengatakan, menjadi kerancuan dalam pembelian tanah ini harganya bervariasi mulai dari Rp 9.000 , Rp19.000 dan Rp 31.000 /m3, untuk itu dugaan Mark-Up terjadi disini. “Kami berharap Kejati Sulut dapat  mengusut tuntas kasus mark-up tersebut,” tandas Rantung. (evel)

Dikirim melalui Facebook Seluler
Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading