Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Berita Pilihan, Lintas Berita, Manado

Orang Manado Motori Band Asal Australia

Redaksi Manado Today   |   27 Juli 2010 – 08:29 WITA

 

Mandagi Berkaos Putih Bertindak Sebagai Vokalis Band ini

(Sumber Foto : forumbebas.com)

Manado Today – Kota Koln, Jerman bagian barat, pengujung Juni lalu. Tepat pukul 9 malam, konser grup musik The Temper Trap dimulai di Live Music Hall. Setelah dibuka dengan penampilan band The Kissaway Trail asal Denmark, The Temper Trap naik panggung. Para penonton langsung bersorak dan bertepuk tangan. Band asal Melbourne, Australia, itu memulai konsernya dengan sebuah komposisi tanpa lirik yang bertempo mengentak, membangkitkan semangat.

Dirilis dari forumbebas.com, Abby Rai Chrisna Mandagi atau Dougy, satu-satunya anggota The Temper Trap yang berkulit cokelat, tampil paling depan sebagai vokalis, gitaris, dan terkadang menabuh genderang serta simbal. Dengan suara falsetonya, Dougy “membakar” penonton lewat Rest, lagu yang diambil dari album debut mereka, Conditions, yang dibawakan sebagai urutan awal penampilan di Koln.

Bagi Dougy, Jonathon “Jonny” Aherne (bas), Lorenzo Sillitto (gitar), dan Toby Dundas (drum), penampilan di Koln merupakan bagian dari rangkaian turnya sejak mereka merilis album perdana pada Agustus tahun lalu. Sejak Maret 2009, The Temper Trap mengisi panggung gedung konser dan klub, dari kampung halaman mereka di Australia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Abbey Road Studio di London, Webster Hall New York, Festival Bonaroo di Amerika Serikat, Festival Pinkpop di Belanda, serta Festival Hurricane di Jerman menjadi saksi menanjaknya karier empat pemuda ini.

Setelah lagu Rest, tanpa jeda, tembang Fader kemudian meluncur. Para penonton, yang memadati ruangan seluas kira-kira enam lapangan bulu tangkis itu, semakin terbakar. Fader merupakan salah satu lagu andalan album debut mereka. Seperti dalam klip videonya, Dougy menyilangkan kedua tangannya ke belakang badannya, bersikap istirahat di tempat. Sejumlah penonton yang berada paling depan sebelah kiri panggung tampak makin asyik bergoyang mengikuti irama, seperti sedang tidak sadar. Gadis-gadis berambut pirang berteriak dan bersorak menyambut lagu Fader.

Salah seorang penggemar berat yang berada sangat dekat dengan panggung terlihat memegang kulit snare drum yang ditandatangani oleh keempat anggota band The Temper Trap. Ketika keadaan semakin panas, seorang petugas keamanan yang berjaga di depan panggung menawarkan untuk menyimpan snare drum itu di meja di dekatnya.

Banyak aksi, sedikit bicara. Itulah yang ditawarkan The Temper Trap dari Australia dalam penampilannya di Koln malam itu. Meski keempat personelnya tidak banyak berkomunikasi dengan para penonton, ratusan penonton dapat merasakan ketulusan para musisi muda itu dari permainan mereka.

Dentuman suara drum meningkahi suara gitar yang atmosferis menjadi ramuan utama The Temper Trap. Dougy melengkapi ramuan itu dengan suara falseto, seperti bidadari, yang dalam satu komposisi dapat berubah menjadi rock yang kuat bertenaga. Jenis musik rock alternatif, post-punk, dan indie rock dengan sentuhan elektronik sangat jujur ditawarkan band yang dibentuk lima tahun lalu itu, yang terdengar sederhana tapi tetap melodius.

Dan akhirnya datang juga nomor yang ditunggu-tunggu para penonton: Sweet Disposition. Lagu inilah yang membawa The Temper Trap ke puncak popularitas dan dijadikan lagu tema film independen bertajuk (500) Days of Summer. Selain itu, lagu ini dipakai di sejumlah iklan mobil, antara lain Chrysler di Amerika Serikat, Peugeot di negara Skandinavia, dan Toyota Yaris di Indonesia.

Baru saja intro pendek disambung dengan kata yang dinyanyikan dengan panjang, “Sweet…”, seisi aula gedung pertunjukan seperti dibawa melayang. Petikan gitar Lorenzo Stillito pada awal lagu mengingatkan pada komposisi-komposisi U2. Memang, dalam wawancaranya dengan Tempo sebelum konser, baik Toby maupun Dougy mengakui bahwa U2 sangat berpengaruh pada musikalitas The Temper Trap.

Setelah Sweet Disposition, dua komposisi berikutnya–Down River dan Love Lost–meluncur lancar. Salah satu lagu yang juga sangat menarik adalah sebuah nomor balada, Soldier On. Dalam suatu wawancara di media Jerman, Dougy bercerita bahwa lagu inilah yang membawa The Temper Trap sehingga album perdananya bisa diracik oleh produser kenamaan, Jim Abbis. Sebelumnya, produser Inggris itu memproduksi album banyak band dan musisi terkenal dunia, seperti Björk, Massive Attack, dan The Verve, termasuk membidani album perdana band Arctic Monkeys.

Sebagai lagu pamungkas konsernya, The Temper Trap menyuguhkan Science of Fear. Sebelum tembang itu berkumandang, Dougy berterima kasih kepada para penggemarnya di Koln. Pertunjukan di kota tersebut merupakan yang kedua kalinya, dan kedua-keduanya semua tiket habis terjual. “Kami selalu senang bermain di Koln karena kalian sangat panas!” kata Dougy.

Seorang penonton asal Indonesia, Agnes, menyatakan ia baru tahu satu lagu dari The Temper Trap, yakni Sweet Disposition. “Ternyata semua lagunya asyik-asyik, ya,” kata Agnes, yang datang bersama rekan-rekannya sesama orang Indonesia. (tim/Luky Setyarini)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading