Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Manado, Nusa Utara

Pemerintah Matangkan Pembangunan Bandara di Miangas

Redaksi Manado Today   |   30 Maret 2011 – 21:30 WITA

Manado Today – Pulau terluar di Sulawesi Utara (Sulut), Miangas, akan segera memiliki bandara udara untuk mempermudah kegiatan transportasi udara warga setempat.
“Pemerintah sudah sepakat membayar ganti rugi lahan milik warga untuk pembangunan bandara sekitar Rp100 ribu per meter,” kata Sekretaris Provinsi Sulut SR Mokodongan, di Manado, Rabu.
Awalnya, pihak pemerintah dan warga terjadi tarik-menarik biaya ganti rugi lahan, sehingga memakan waktu cukup lama proses penyelesaiannya.
Warga Miangas sendiri meminta biaya ganti rugi Rp300 ribu per meter persegi, dengan alasan mereka tidak ada lagi lahan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan, sementara pemerintah bertahan dibawah Rp100 ribu per meter persegi.
Mokodongan berharap seluruh pihak berkomitmen dengan upaya pembebasan lahan tersebut, karena pemerintah sebetulnya dapat saja menggunakan lahan itu dengan alasan kepentingan nasional, namun mengingat hal-hal ekonomis warga sehingga dipilih ganti rugi lahan.
Kepala Badan Perbatasan Sulut Max Gagola mengakui, terjadi langkah maju antara pemerintah dan warga Miangas soal masa depan bandara kecil di pulau berpenduduk 950 jiwa tersebut.
Untuk pembebasan lahan itu, pemerintah provinsi telah sepakat dengan Bupati Talaud melalui dana sharing Rp14 miliar untuk ganti rugi terhadap pemilik tanah.
Sementara itu, Camat Miangas Yeni Pangurian menyatakan, tidak ada lagi penolakan masyarakat soal harga ganti rugi sehingga pembangunan bandara sudah dapat dimulai dari pembebasan lahan.
Menurutnya, warga Miangas sudah setuju harga per meter Rp100 ribu, padahal sebetulnya memunculkan kekhawatiran akan punahnya tanaman pangan utama masyarakat, berupa umbi bernama Leluga dan tanaman kelapa.
“Perlu diketahui bahwa umbi Leluga telah menghidupi warga Miangas selama ratusan tahun, dan merupakan kuliner tradisional masyarakat,” ujarnya.
Kemudian disaat terjadi gelombang laut dan sulitnya pasokan pangan ke pulau berbatasan dengan Filipina itu, umbi Leluga mampu mencukupi kebutuhan pangan warga Miangas. Hanya saja pembangunan bandara itu diharapkan tidak akan merusak seluruh kawasan budidaya umbi Leluga. (ann/jwt)

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading