Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Berita Pilihan, Manado, Tokoh Today

Terkait Pro dan Kontra Kejadian Banjir di Manado

Aldi Mawitjere   |   26 Januari 2014 – 11:26 WITA

Inilah Pendapat Dr Peter Kalbert Bartje Assa MT Phd

MOHON ijin saya menyampaikan sedikit pendapat terkait kejadian banjir di Kota Manado yang menimbulkan banyak pro dan kontra, bahkan perselisihan tentang sebab akibat banjir tersebut.

Bukan karena saya sebagai birokrat pemkot kemudian saya ingin membela, tetapi rasanya tidak bijak seandainya saya pun hanya berdiam diri, padahal sedikit banyak saya barangkali bisa memberi sumbangsih pemikiran. Pesan ini sebagai tanggapan yang mungkin bisa sedikit menetralisisr pendapat yang terlalu memojokkan Pemkot Manado. Mohon maaf bila kurang berkenan.

manado

Dr Peter KB Assa MT

Teman-teman yang saya hormati. Saya pikir saat ini sebaiknya kita pikirkan apa yang kita bisa buat untuk menangani masalah para korban banjir dan bagaimana caranya setelah ini kita akan merehabilitasi kerusakan-kerusakan yang ada. Mohon maaf kalau bicara penyebab banjir sebaiknya kita tanyakan saja kepada para ahli yang betul-betul paham soal itu, misalnya kepada pakar drainase dan pakar sungai di Manado. Tetapi kalau saya bisa memberi gambaran sedikit, bukan menggurui tentang terbentuknya banjir bandang di Kota Manado, sebagaimana yang saya pernah tahu, saya kira bukanlah semata mata diawali di dalam kota Manado, dan bukan semata mata ada yang salah di kota Manado.

Alasan saya, anggap saja ini pendapat pribadi dulu, silahkan di cross check ke para pakar Hidrologi dan hidrolika, bahwa: Banjir bandang sesuai teorinya, kalau bisa saya bahasakan sederhana di generasi pada daerah tengah sampai ke hulu. Daerah hilir atau bagian alluvial fan seperti kota Manado sebagai kawasan hilir dari DAS Tondano, Sawangan, Bailang dan lainnya, biasanya hanya kena getahnya atau kena bandangnya. Memang benar pengalihan penggunaan lahan di dalam kota manado ada pengaruhnya, tetapi kejadian banjir bandang kali ini betul-betul bencana katastropik, bukan yang biasa-biasa.

Kita barangkali bisa katakan sepenuhnya kesalahan pemerintah Kota Manado kalau dalam keadaan normal intensitas curah hujan atau hanya berkisar di 100-200 mm saja kemudian menyebabkan terjadi banjir dan genangan besar seperti baru baru ini.

Penyebab banjir yang utama, dan ini sifatnya terjadi menyeluruh dalam areal sangat luas, atau terjadi di mana mana tidak saja di kota manado, atau menurut BMKG adalah karena prospek cuaca Indonesia kala itu adalah aktifnya angin baratan, atau monsun Asia, yang mengakibatkan adanya daerah pertemuan angin, atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ), yang memanjang dari Sumatera Selatan, Jawa, sampai Nusa Tenggara, sehingga menyebabkan curah hujan menjadi sangat tinggi, kalau saya prediksi kisaran 500 mm an dan debit banjir sungai mencapai 600 m3 per detik.

manado

petah.(ist)

Selain itu, bukti-bukti kerusakan yang terjadi bisa kita lihat dan identifikasi bahwa kejadian banjir di Manado bukan dari, untuk dan oleh Manado, seperti penggerusan sungai di daerah Citraland oleh banjir bandang di sungai sario, atau inundasi cepat akibat konsentrasi pembentukan kepala banjir bandang sudah terjadi sebelum masuk Kota Manado pada Sungai Tondano maupun Sungai Sawangan dan Bailang. Dan bukti lain seperti gelondongan-gelombang kayu dan bambu-bambu hutan yang tentu tidak dari wilayah Kota Manado yang mempersempit penampang basah aliran sungai sehingga volume air yang mengalir menjadi sangat besar, debris, merusak sungai dan menggenangi Kota Manado, dan lain-lain.

Sehingga tidak bijak saya kira bila kita langsung menyalahkan Pemerintah Kota Manado atau mengatakan hal itu terjadi semata mata dikarenakan pengalihan fungsi lahan yang ada di wilayah kota Manado saja.

Bila kita peduli dengan kota Manado, dan merasa orang Manado mari kita jujur dan obyektif, agar kita bisa dapatkan solusi yang terbaik untuk perbaikan ke depan. Hemat saya, seharusnya apa yang pernah kami kemukakan dalam berbagai seminar dan diskusi dahulu tentang konsep ORPIM atau one river one planning and one integrated management, sudah saatnya dilakukan saat ini.

DAS Tondano, Sawangan, dan lain-lain yang semuanya bermuara di teluk Manado harus dikelola secara terintegrasi oleh semua pihak terkait dan pemerintah yang wilayahnya dilalui oleh sungai-sungai tersebut.

Sehingga pemecahannya adalah pemecahan masalah secara komprehensif bukan parsial dan tepat sasaran mulai dari hulu sampai hilir. Saya mengajak, mari kita duduk bersama. Kapan kita mau saya pun akan siap dengan data dan analisis bila diperlukan, karena satu hal yang barangkali kita semua sepakat bahwa kejadian banjir bandang ini bukan kali ini saja dapat terjadi, bisa terjadi kapan saja ia mau karena anomali iklim yang telah terjadi akibat global warming.

Mari kita pikirkan nasib kota Manado kedepan, nasib generasi penerus kita, agar mereka pun nantinya tidak menyalahkan kita. Mari kita mengelola mata air saat ini agar tidak menjadi air mata di kemudian hari…. Terima kasih. Syaloom, wassalam…

Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading