Iklan Layanan Manado
Minahasa

Bitung

Minahasa Selatan

Minahasa Tenggara

Tomohon

Utama » Headline, Minahasa Selatan

Warga Amurang Desak Penghentian PETI di Minsel

Redaksi Manado Today   |   21 Maret 2011 – 09:12 WITA
Amurang Today – Pengolahan hasil Pertambangan Emas Tanpa Isin (PETI) yang beroperasi di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ranoyapo wilayah Motoling Timur dan menggunakan Mercuri dan Sianida, dinilai sangat membahayakan warga yang ada di Amurang raya.
” Pengoperasian PETI ini harus di hentikan, karena limbah yang dibuang ke DAS Ranoyapo, sangat mengancam warga masyarakat yang ada di Amurang raya,” ujar Wilem Baba Mononimbar dan Setlight tokoh masyarakat.
Menurut mereka limbah PETI tersebut akan menjadi pembunuh misterius, setelah pembuangan ke sungai Ranoyapo yang bermuara di Teluk Amurang, bahkan DAS ranoyapo juga manfaatkan untuk mengairi arel persawahan dan tempat warga untuk menangkap ikan oleh warga.
Pemkab Minsel melalui Kabag Humas Lucky Tampi SH, ketika di konfirmasi mengatakan sudah dilakukan operasi gabungan antara Pemkab dan aparat kepolisian beberapa waktu lalu, dan masyarakat terutama pelaku pertambangan sudah diingatkan untuk menghrntikan aktivitas mereka. ” Beberapa waktu lalu pemkab bersama kepolisian sudah melakukan operasi PETI secara bersama sama,” kata Tampi. (dav)
Dikirim melalui Facebook Seluler
Share Berita Ini ke : Facebook | Twitter | Digg


Komentar yang dikirimkan melalui form di bawah ini menjadi tanggung jawab pengirim| Manado Today berhak untuk memuat , tidak memuat, mengedit, dan/atau menghapus data/informasi yang disampaikan oleh pembaca.

One Response »

  • michael rumondor mengatakan:

    apa yang di sampaikan oleh bung wem tidaklah keliru namun sekiranya harus meninjau lokasi terlebih dahulu baru mengeluarkan pernyatan karena sepengetahuan kami sebagai warga tokin bahwa di lokasi tambang tersebut tidak ada kegiatan pertambangan oleh reakyat karena saat ini telah di jaga oleh pasukan Brimob jadi tdk mungkin ada penambang rakyat kalau itu ada maka keberadaan pasukan tersebut di pertanyakan,seharusnya para tokoh tokoh masyarakat minsel lebih mengawasi akan kegiatan pertambangan yang di lakukan oleh sebuah peusahan tambang yang sekarang telah berinvestasi di kabupaten minsel,maka potensi terjadinya pencemaran akan terjadi, apalagi kegiatan tersebut berada di daerah aliran sungai Ranoyapo maka apabila terjadi pencemaran maka sungai tersebut dan teluk amurang akan menjadi toilet limba, bukan tidak mungkin tragedi Buyat akan terjadi di amurang sehingga masyarakat amurang akan di warisi malapetaka oleh sebua kebijakan yang masih perlu mendapat perhatian dari seluruh komponen masyarakat Minsel.
    sekedar kami mengingatkan bahwa lokasi pertambangan tersebut telah di tetapkan sebagai WPR, namun telah di jual oleh pihak pihak tertentu padahal sesuai aturan bahwa WPR yang sudah di tetapkan tidak dapat lagi di tetapkan lagi sebagai WUP.

Kirim Komentar

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

Loading